Peningkatan Inflasi Bali Harus Diwaspadai

(Baliekbis.com), Wakil Gubernur Provinsi Bali selaku Ketua TPID Provinsi Bali Drs. Ketut Sudikerta yang dihadiri instansi terkait serta staf ahli Bidang Perdagangan Jasa Kementerian Perdagangan RI Lasminingsih,S.H. pada Rapat Koordinasi Identifikasi Barang Kebutuhan Pokok Menjelang Hari Besar Keagamaan di Kantor Bank Indonesia Denpasar, Kamis (13/4/2017). Kinerja Perekonomian Provinsi Bali tahun 2016 menunjukkan perkembangan positif, pertumbuhan ekonomi Provinsi Bali tahun 2016 mencatat peningkatan dari 6,03% (yoy) pada tahun 2015 menjadi 6,24% (yoy) pada tahun 2016.

Perkembangan positif tersebut didukung oleh peningkatan kinerja investasi dan perbaikan kinerja ekspor.  Wakil Gubernur Provinsi Bali selaku Ketua TPID Provinsi Bali Drs. Ketut Sudikerta mengatakan hal itu pada Rapat Koordinasi Identifikasi Barang Kebutuhan Pokok Menjelang Hari Besar Keagamaan di Kantor Bank Indonesia Denpasar, Kamis (13/4/2017). Rapat selain dihadiri instansi terkait juga hadir Staf Ahli Bidang Perdagangan Jasa Kementerian Perdagangan RI Lasminingsih,S.H.

Dikatakan Sudikerta peningkatan kinerja ekspor terjadi seiring dengan peningkatan industri pariwisata di tahun 2016 serta perbaikan permintaan ekspor dari negara-negara tujuan ekspor terutama Amerika Serikat. Perkembangan positif tersebut diperkirakan akan terus berlanjut di tahun 2017 seiring dengan perbaikan ekspektasi pelaku usaha dan potensi peningkatan kinerja industri pariwisata.

Perkembangan positif tersebut didukung dengan pergerakan tingkat harga Provinsi Bali yang mengalami deflasi pada Maret 2017 yaitu sebesar -0,02% (mtm), sama dengan Nasional yang juga mengalami deflasi pada periode yang sama sebesar -0,02% (mtm). Sehingga secara tahunan inflasi Bali pada triwulan I 2017 tercatat sebesar 4,4%(yoy) masih dalam rentang sasaran inflasi nasional tahun 2017 yang sebesar 4±1%. “Perkembangan tersebut seiring dengan menurunnya tekanan inflasi kelompok volatile food seiring dengan kinerja produksi komoditas hortikultura (cabai rawit dan cabai merah) yang mulai membaik dengan didukung adanya panen raya,” ujar Sudikerta.

Pencapaian ini tentunya tidak lepas dari peran aktif TPID Provinsi Bali dalam mengendalikan inflasi melalui pemantauan kecukupan stock ketahanan pangan, menjaga stabilitas dan ekspektasi harga, penggalian informasi dengan stakeholders/instansi terkait, serta melalui forum koordinasi TPID. Meskipun masih menunjukkan kinerja yang cukup baik, menurut Sudikerta pergerakan inflasi Bali pada triwulan I 2017 menunjukkan tendensi peningkatan yang harus diwaspadai.

Secara tahunan, pencapaian inflasi Bali pada triwulan I 2017 tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 3,59% (yoy). Angka tersebut juga masih lebih tinggi dibandingkan dengan pencapaian nasional yang tercatat sebesar 3,61% (yoy) pada triwulan I 2017. Secara kumulatif sampai dengan triwulan I 2017, pencapaian inflasi Bali yang tercatat sebesar 1,93% (ytd) juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata 3 tahun terakhir (2014-2016).

Dengan demikian, kewaspadaan dalam upaya pengendalian inflasi Provinsi Bali dalam tingkat yang rendah dan stabil masih harus ditingkatkan khususnya untuk tahun 2017 mengingat adanya sejumlah risiko pengendalian inflasi antara lain masih tingginya ketergantungan pasokan bahan pangan dari luar Bali untuk memenuhi kebutuhan Provinsi Bali, risiko anomali cuaca antara lain potensi terjadinya kemarau pada bulan Mei 2017.

Menghadapi kondisi tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Provinsi Bali telah menyusun beberapa hal yang menjadi perhatian dalam rangka persiapan menjelang peak season Hari Besar Keagamaan, antara lain diperlukan adanya koordinasi dan sinergisitas dari seluruh pihak terkait guna menjaga kestabilan harga, mendorong perluasan urban farming dan Puspasari di Provinsi Bali. (ist)