Pameran ‘Drawing on Novel’ I Wayan Sujana Suklu

(Baliekbis.com), Perupa I Wayan Sujana ‘Suklu’ kembali menggelar pameran, kali ini menggandeng sejumlah kreator lintas latar. Eksibisi yang bertajuk “Intermingle Art Project – Light Patterns” ini dilangsungkan di Bentara Budaya Bali (BBB), Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, bypass Ketewel, Gianyar, dan telah dibuka secara resmi pada Selasa (28/11) oleh budayawan Prof. Dr. I Wayan Dibia, S.ST., MA.  Pameran ini berangkat dari pertemuan kreatif I Wayan Sujana Suklu dengan sekian buku novel dan karya sastra lainnya. Buku-buku tersebut bukan saja mengundang minatnya untuk membaca, melainkan juga terbukti memicunya berkarya.

Dari teknik “Drawing on Novel”, goresan-goresan arang Suklu di atas novel-novel bekas, kemudian menjadi pemantik ide berkarya bagi 16 seniman lain yang terlibat dalam pameran kali ini.  Para seniman tersebut antara lain: Tjok Istri Ratna Cora (fashion design), I Gusti Ngurah Sudibya (seni tari), I Gusti Ngurah Indra Tj.(arsitek), I Gusti Ngurah Ksatria Pinandhita (video art),  I Wayan Sabath Sukma Miarna (arsitektur), Ketut Sumerjana (seni musik), Ketut Hery Budiyana (video art), I Gusti Ngurah Wirawan (desain grafis), I Ketut Sukerta (seni patung), I Nyoman Darmadi (seni patung), Jro Mangku Made Miasa (seni patung), Nyoman Lia Susanti (ilmu komunikasi), Sri Supriyatini (Seni Murni), I Made Jodog (Seni Murni), Gregorius Supie Yolodi (arsitektur), dan I Made Tegeh Okta Maheri – Dek Geh (seni tari).  Fiksi Rupa Suklu (drawing), pada giliran berikutnya diekspresikan dalam karya dua atau tiga dimensi lainnya berwujud patung, lukisan, fashion, arsitek, musik, performing, dan juga seni instalasi. Sebagaimana tecermin pada pembukaan pameran yang dimaknai performance art “Light Patterns” Selasa malam kemarin, yang mengemuka pada peristiwa ini adalah sebentuk seni yang lintas batas.  Hal senada juga diungkapkan budayawan I Wayan Dibia. Ia menyebut karya Drawing on Novel Suklu sebagai salah satu bentuk seni multirupa, yakni produk kolektif yang melibatkan partisipasi banyak pekerja seni. “Tantangannya adalah bagaimana mengelola semangat kolektif dan potensi yang beragam ini agar tidak sampai mengaburkan wujud akhir dan potensi karya seni yang diinginkan,” tutup Dibia. (ist)

Leave a Reply

Berikan Komentar

%d blogger menyukai ini: