Pak Oles Bagi Pengalaman Bisnis Kepada Mahasiswa Undiksha

(Baliekbis.com), Direktur Utama PT Karya Pak Oles Tokcer,  Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana memberikan motivasi,  berbagi pengalaman hidup dan bisnis kepada 200-an mahasiswa Universitas Pendidikan Genesha (Undiksha) Singaraja, di kampus setempat pada Jumat. Wididana tampil bersama seorang dosen Undiksha, Prof Dr Nengah Bawa Atmaja, MA pada seminar sehari bertajuk Membangun Kewirausahaan Berdasarkan Tri Hita Karana.

Wididana yang telah berpengalaman dalam usaha bisnis yang kini  menyerap ribuan tenaga kerja dan membentuk kantor cabang di berbagai daerah di Indonesia, penampilannya di hadapan dosen dan mahasiswa diawali dengan menembangkan  sebuah lagu daerah Bali  “Dabdabang dewa dabdabang (bersiap siaplah anakku), saking tuhu manah guru (petuah guru), dan de ngaden awak bisa (jangan kira kamu pintar).”
Makna lagu daerah Bali itu kaya terhadap nasehat  atau  petuah orang tua Bali kepada generasi muda untuk terus belajar dengan tekun agar bisa menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab. Alumnus S-2 Faculty Agriculture University of The Ryukyus Jepang dan program S-3 IHDN Denpasar itu menekankan tiga hal penting kepada generasi muda agar bisa menjadi sukses dalam kehidupan. Ketiga hal itu meliputi  seken (serius), seleg (tekun) dan saja (jujur). “Jika petuah itu dapat dilaksanakan dengan sungguh sungguh, pastilah segala usaha dan kerja memberikan hasil yang maksimal. Astungkara. Mudah-mudahan ada kata-kata motivasi saya yang bisa menumbuhkan semangat kerja untuk menyambut masa depan adik-adik mahasiswa terbuka sangat luas,” ujar Pak Oles.
Wididana setelah menyelesaikan pendidikan S-1  di Fakultas Pertanian Universitas Udayana melanjutkan program S-2 pada  Faculty Agriculture University of The Ryukyus Jepang untuk mendalami teknologi Effective Microorganisme (EM4). Di negeri Sakura, sosok pria ayah dari dua putra dan dua putri itu menunjukkan dedikasi, disiplin dan  kerja keras  untuk mengurus izin agar teknologi yang berbasis pertanian ramah lingkungan bisa diterapkan di Indonesia.  Upaya dan kerja kerasnya itu membuahkan hasil, karena  Pak Oles mendapat izin dari penemu EM4 Prof Dr Teruo Higa untuk menerapkannya di Indonesia untuk mendukung pengembangan pertanian organik yang ramah lingkungan.
Hasil penelitian  Prof Dr Teruo Higa selama 12 tahun bersama mahasiswa yang kuliah  di Universitas Ryukyus Okinawa Jepang (1968-1980)  izinnya di Indonesia merupakan satu-satunya dipegang Pak Oles.  Teknologi berbasis EM4  kini diterapkan 100 negara di dunia, termasuk Indonesia yang satu-satunya ada di Bali. Awalnya teknologi EM4 di Indonesia itu dikenalkan dan diterapkan di Jawa Barat untuk tanaman bunga-bungaan, sayur mayur dan pertanian dalam arti luas.
Di negeri Sakura, sosok pria ayah dari dua putra dan dua putri itu menunjukkan dedikasi, disiplin dan  kerja keras  untuk mengurus izin  agar teknologi yang berbasis pertanian ramah lingkungan bisa diterapkan di Indonesia. Upaya dan kerja kerasnya itu membuahkan hasil, karena  Pak Oles mendapat izin dari penemu EM, Prof Dr Teruo Higa untuk menerapkannya di Indonesia untuk mendukung pengembangan pertanian organik yang ramah lingkungan. 
Setelah usaha ujicoba penerapan EM4 itu membuahkan hasil, pabriknya dipindahkan ke tempat kelahiran Pak Oles di Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Selain produksi EM4 juga produksi pupuk padat Bokashi Kotaku dengan pabrik di Desa Bantas, Kabupaten Tabanan. Kedua jenis pupuk ramah lingkungan  itu dimanfaatkan petani di Bali dan berbagai daerah di Indonesia, dengan harapan bisa mewujudkan pertanian organik serta menghindari pencemaran  akibat penggunaan pupuk kimia, pestisida dan zat kimia lain dalam pengembangan  bidang pertanian. (ist)