Ni Komang Suastiari : Hidup dari Jaje Bali

 

Ni Komang Suastiari dengan jaje Bali-nya.
Ni Komang Suastiari dengan jaje Bali-nya.

(Baliekbis.com), Jajan tradisional Bali tak hanya jaje kukus, apem, jaje uli maupun jaje  lainnya. Jaje injin, klepon dan jaje Batun Bedil merupakan sejumlah unit dari sekianbanyaknya makanan  yang  sering menghiasi dagangan untuk dipasarkan/dijual di beberapa tempat dan pasar-pasar tradisional di Bali. Jajan Bali sampaikini masih tetap digemari warga mesmi jajan modern dari dari termasuk luar negeri mulai mengisi sejumlah pasar atau took. Dengan kekhasan rasa,bentuk, warna serta bahan baku alami, jajan tradisional Bali bahkan semakin berkembang.

Di antara sekian banyak jajan Bali, jaje injin, klepon dan jaje Batun Bedil menjadi cukup favorit dan hamper setiap hari menjadi konsumsi bagi wargasebagai teman minum teh atau kopi. Bahkan jaje injin kerap dijadikan suguhan pada saat-saat upacara keagamaan umat Hindu di Bali khususnya untuk konsumsi para sekaa gong yang mendapat tugas menabuh.

Seperti diungkapkan salah seorang pedagang jaje Bali, Ni Komang Suastiari,  ibu satu anak asal Desa Bitra Gianyar yang setiap hari memasarkan/menjualaneka jaje ini. Paginya ia menjual jaje injin, klepon dan jaje Batun Bedil di Pasar Tradisional Biaung, Tohpati Kesiman Denpasar Timur dan sore harinya, iapun melakoni usaha yang sama,  menjual jajan di Jabe Pura Dalem Benculuk, Jln. Seroja Br. Tegeh Kori Desa Tonja didampingi suaminya I Made Morten.

Awal berjualan, ia mengaku modalnya diperoleh dari Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Bitra. “Dan sampai sekarang pun masih tetap memilikipinjaman di LPD kelahirannya itu,  LPD Desa Adat/Pakraman Bitra-Gianyar,” ungkap suaminya I Made Morten menambahkan.

Dijelaskan , hasil penjualan  jaje Bali saban hari cukup untuk memenuhi  kehidupan sehari-hari, walaupun jumlah rupiahnya tidak begitu besar sepertipara pelaku UKM lainnya. “Yang penting kami bersama keluarga sudah memiliki usaha sendiri meski secara kecil-kecilan. Namun  bisa hidup dari sana,”ungkapnya merendah tanpa mau menjelaskan lebih lanjut. Berjualan jaje ini sudah bertahun-tahun digelutinya sehingga mereka tahu persis campuranbahan buknya agar tetap enak. Dari sana langganannya  pun terus bertambah. Biasanya kalau sudah mencobanya pasti datang lagi. Apalagi Suastiari tidak mematok harga terlalu tinggi.

Pasangan ini  mengaku bersyukur bisa hidup dan menghidupi keluarganya dari penghasilan menjual jaje Bali.  “Jangan minta supaya cepat kaya, karenasemua harapan sudah diatur oleh Hyang Parama Kawi dan kita diciptakan mesti  bersyukur  untuk berlaksana dan bertingkah laku baik,’’ jelas Suastiarisambil tersenyum.

Bagi krama  yang memerlukan suguhan jaje injin, klepon dan jaje Batun Bedil untuk porsi banyak bisa memesan lebih dulu sehingga bisa disiapkan. “Sebab kami juga kerap menerima pesanan jaje dari sejumlah krama,” tambahnya. (dra).

Leave a Reply

Berikan Komentar

%d blogger menyukai ini: