Nh. Dini, Satu Dari Empat Pilar Sastra Indonesia

(Baliekbis.com), Kritikus sastra Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. menyebut penulis Nh. Dini sebagai salah satu dari empat pilar penting dalam sastra Indonesia. Darma Putra menilai Nh. Dini merupakan sosok perempuan pengarang yang mampu hadir sebagai dirinya sendiri. Kekukuhannya berkarya membuat sastra Indonesia tumbuh dalam perjalanan waktu dan melampaui berbagai fase kehidupan sosial politik. Hal tersebut diungkapkannya pada acara Dialog Sastra #64, Rabu (27/02) di Bentara Budaya Bali (BBB).

Sementara itu, tiga pilar sastra Indonesia lainnya yang pertama yakni sastrawan yang menulis cerita-cerita realis, seperti Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, YB Mangunwijaya dan lain-lain. Pilar kedua yaitu penulis karya-karya yang bersifat absurd, sebut saja Putu Wijaya, atau Iwan Simatupang. Sedangkan yang ketiga dikhususkan bagi para penyair atau mereka yang menulis puisi.

Lebih lanjut, guru besar ilmu sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana ini memaparkan bahwa Nh. Dini telah berkarya sedari tahun 1950-an, dan masih tetap produktif hingga akhir hayat. “Kekokohan Nh. Dini sebagai pengarang sulit dibantah. Pertama dalam hal kuantitas karya, di mana mungkin lebih dari 20 novel sudah ia lahirkan. Sementara dalam hal kualitas pun karya Nh. Dini juga menjadi pilar kuat yang menopang kehidupan sastra Indonesia, karena ada sisi memoar dan kehidupan pribadinya di sana.

“Nh. Dini juga harus diakui memiliki kosakata-kosakata sendiri yang amat mempribadi, “ ujar Darma Putra. Penulis Nh. Dini lahir di Semarang, 29 Februari 1936 dan sepanjang hidupnya telah menulis berbagai novel, cerita pendek, serta juga puisi. Pengalaman menulis diasahnya sejak masih di bangku sekolah dengan mengisi kolom di majalah dinding, di samping juga secara teratur menulis sajak dan cerita pendek. Pada tahun 1952 sajak Nh. Dini dimuat dalam majalah Budaja dan Gadjah Mada di Yogyakarta, termasuk juga cerpen-cerpennya yang makin sering mengisi halaman-halaman sastra di Majalah Kisah dan Mimbar Indonesia.

Beberapa judul karya Nh. Dini yang dikenal dan dipujikan antara lain Pada Sebuah Kapal (novel, terbit pertama kali 1972), La Barka (novel, terbit pertama kali 1975), Padang Ilalang di Belakang Rumah (novel, terbit pertama kali 1978), Keberangkatan (novel, terbit pertama kali 1987) dan sebagainya. Program Dialog Sastra #64, bekerja sama dengan  Penerbit GPU, bukan saja membincangkan seputar capaian dan pengaruh karya-karya Nh. Dini bagi dinamika kesusastraan di Indonesia, namun ini juga sebentuk Obituari bagi penulis yang telah berpulang pada 4 Desember 2018 tersebut.

Selain Darma Putra, hadir pula sebagai pembicara pada dialog ini penulis Cyntha Hariadi. Ia berbagi perihal pertemuan pertamanya dengan karya Nh. Dini serta bagaimana kemudian karya-karya Nh. Dini turut mempengaruhi kehidupan kreatifnya sebagai seorang penulis. “Saya pertama kali membaca karya Nh. Dini selepas SMA, saya merasa tulisan-tulisan Bu Dini sangat mengejutkan namun elegan. Dan itu bagi saya menjadi penanda yang khas dibandingkan penulis-penulis lain,” kata Cyntha Hariadi.

Penulis buku “Manifesto Flora” ini juga mengungkapkan bahwa Nh. Dini boleh dikata adalah salah satu feminis Indonesia yang pertama-tama muncul. Akan tetapi ia mendasari feminismenya dari sikap-sikap lokal. “Dalam tulisan-tulisan Nh. Dini tecermin pribadinya yang sangat njawani, tapi sekaligus juga sangat terbuka. Sementara sebagai orang Timur kita tahu bahwa feminisme adalah nilai-nilai yang dibawa dari pemikiran Barat. Menurut saya ini nilai-nilai yang paling mengangumkan dari dia, “ ujar Cyntha. Ia juga berpandangan bahwa sebagai pengarang Nh. Dini bukan saja sekadar menulis karya, tetapi ia menuliskan kehidupan.

Adapun acara Dialog Sastra #64 ini dimaknai pula pemutaran dokumenter proses kreatif Nh. Dini produksi Lontar Foundation (2002) serta pembacaan nukilan novel “Pada Sebuah Kapal” oleh Siswan Dewi dan video art kreasi Dewa Widhya. Hadir pula pada kesempatan ini putra putri almarhumah Nh. Dini, Marie Claire Lintang Coffin dan Pierre Louis Padang Coffin, juga sahabat Nh. Dini semasa di Semarang, penulis Sulis Bambang.

Selain di Bali, program obituari Nh. Dini juga diselenggarakan di Bentara Budaya Jakarta (Desember 2018), lalu di Bentara Budaya Solo Balai Soedjatmoko (Januari 2019), serta menyusul kemudian di kota kelahiran Nh. Dini, Semarang pada 2 Maret mendatang. (ist)

Leave a Reply

Berikan Komentar

%d blogger menyukai ini: