Mengapa Kita Menangis?

(Baliekbis.com), Dari sudut pandang keilmuan, menangis punya mekanisme berbeda dari keluarnya air mata sebagai respon terhadap iritasi zat kimia, seperti saat Anda tak sengaja mengucek mata setelah makan makanan pedas. Bahkan air matanya pun berbeda.

Satu teori mengatakan tangisan orang dewasa sebenarnya tidak begitu berbeda dari tangisan bayi, setidaknya dalam sifat sosialnya. Dengan kata lain, mungkin meratap ialah cara mencari perhatian, cara untuk meminta dukungan dan pertolongan dari kawan saat kita sangat membutuhkannya. Tangis merupakan cara mengomunikasikan kondisi emosional dalam diri pada saat kita mungkin tak bisa sepenuhnya mengartikulasikannya.

Meskipun teori ini menjelaskan beberapa bentuk tangisan, banyak ilmuwan menemukan bahwa orang dewasa sering menangis ketika mereka sendirian. Kemungkinan lain ialah tangisan dapat berfungsi sebagai “penilaian sekunder”, yang membantu seseorang menyadari seberapa terganggunya mereka, atau cara untuk membantu mereka memahami perasaannya sendiri – ini ide yang provokatif, dengan beberapa bukti yang mendukungnya, dalam beberapa kasus.

Dan kemudian ada gagasan tentang katarsis: tangisan memberi kelegaan terhadap situasi yang membuat stres. Gagasan tersebut tak hanya konsisten dengan kata-kata Shakespeare, tapi juga dengan penyair Romawi Ovid, yang menulis, “Lega rasanya setelah menangis; kesedihan terpuaskan dan hanyut oleh air mata.” Filsuf Yunani Aristoteles juga pernah menulis bahwa tangis “membersihkan pikiran”.

Baca Juga :   Kolaborasi Jazz Dengan Musik Tradisional Bali oleh Balawan di Denpasar Festival ke-9

Studi pada tahun 2008 terhadap hampir 4.300 orang dewasa dari 30 negara menemukan bahwa kebanyakan dari mereka melaporkan perbaikan dalam kesejahteraan fisik dan mental setelah menangis, tapi tidak semuanya. Beberapa melaporkan tidak ada perubahan, dan beberapa bahkan mengatakan mereka merasa lebih buruk setelah menangis. (ist)

Leave a Reply

Berikan Komentar

%d blogger menyukai ini: