LIMA BUNYI KEARIFAN LOKAL BALI MENJADI STRATEGI TUNTASKAN COVID-19

BALI punya banyak kearifan lokal, ada berupa tembang-lagu, cerita, petuah, selogan, pranata sosial-lembaga tradisional, bahkan punyi atau suara. Rupanya di tengah pandemi covid-19 ini kumpulan akasara itu yakni NANG, NING, NUNG, NENG dan NONG, bila kita renungkan secara mendalam dan kita bisa memberikan makna, maka dapat menjadi strategi untuk menghadapi pandemi covid-19 saat ini.

Paling tidak untuk masyarakat Bali yang sering mendengar bunyi atau suara itu saat belajar memainkan gong atau gamelan.
1. NANG. Apabila semua kita TENANG, dan tidak panik, niscaya pandemi Covi-19 dapat kita kendalikan penyebarannya, sebab dengan ketenangan kita bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih baik dan terorganisir. Sebaliknya kalau kita panik dan tergesa-gesa acapkali keliru dalam bertindak atau melangkah. Sesederhana apapun tindakan kita jika keliru atau salah bisa berakibat fatal. Atau ada risiko atas perbuatan tersebut. Ketenangan jiwa dan pikiran akan melahirkan energi dan aura positif dan itu bisa menambah kekebalan tubuh dan itu dapat menghabat segala penyakit masuk dalam tubuh kita, termasuk Covid-19.

2. NING. Hening sejenak adalah bagian dari cara menenangkan untuk mulai memusatkan atau menfokuskan pikiran. Fokus adalah kata kita bisa mengumpulkan seluruh kekuatan dan keahlian menjadi satu kesatuan. Bila kita semua HENING dan setelah itu kita gerakkan semua akal, pikiran, rasio dan logika menjadi sinergi terpusat atau fokus pada penuntasan satu tujuan, yakni melawan COVID-19 niscaya akan berhasil dengan baik.

HENING dapat menjadikan alam bawah sadar kita menjadi POWER baru yang mungkin selama ini terpendam. Mari kita gunakan kekuatan HENING sejenak untuk menghadapi pandemi virus ini dan semoga segera berlalu dan pamit dari kita semua.

3. NUNG. Ayoooo semua kita TENUNG. Itu berasal dari METENUNG adalah kegiatan bertanya kepada alam NISKALA, bertanya kepada Yang Maha Kuasa melalui orang yang dianggap punya nilai lebih atau “ orang pintar” atau di Bali disebut orang “WIKAN”. Kalau di dunia nyata atau SEKALA dalam menghadapi pandemi ini kita bertanya pada PEMERINTAH ATAU APARAT-SATGAS dan ini adalah salah satu alternatif bila jalan melalui SEKALA terasa belum cukup. Atau MATENUNG ini untuk melengkapi jalan SEKALA atau rasional.

Bagi kebanyakan masyarakat Bali, terutama yang beragama Hindu, dua jalan yakni NISKALA DAN SEKALA seringkali dipakai untuk menyelesaikan setiap masalah, bila lama dan berlarut-larut tidak ujung selesai. Termasuk dalam mencari pengobatan jika anggota keluarga menderita sakit atau keluarga kerkena musibah. Apalagi sakit atau musibah yang menimpa mereka tidak logis dan masuk dalam kalkulasi akal sehat.

Pandemi inipun bisa kita lakukan dengan cara itu yakni TENUNG sehingga bisa saja menambah keyakinan kita untuk menyelesaikan pandemi virus ini lebih cepat karena didorong oleh keyakinan begitu kuat dengan memadukan energi NISKALA DAN SEKALA.

4. NENG. Ayoooo semua MENENG. Duduk manis dan sambil melihat serta mencermati di sekitar kita secara teliti dan penuh konsentrasi sambil kontemplasi adalah salah satu bagian dari PROTOKOL KESEHATAN dalam melawan pandemi virus corona ini. Tinggal di rumah, jangan ke luar jika tidak terlalu perlu dan penting adalah bagian tak terpisahkan dari strategi WHO untuk memutus mata rantai pandemi ini. Diam dalam kondisi tertentu adalah lebih baik dari bergerak kemana-mana karena suasana tidak memungkinkan atau kurang kondusif.

Bahkan sekali-sekali terlontar ungkapan “DIAM ITU EMAS” dibandingkan banyak bicara tanpa arah dan tujuan yang jelas. Meneng di rumah dalam situasi pandemi covid-19 ini lebih baik daripada pergi kemana-mana tanpa tujuan yang jelas, apalagi belum perlu dan tidak terlalu urgen. Itu buang-buang energi, inefisien, lelah, capek, energi terkuras, masuk angin dan intinya buang-buang waktu dan tenaga, serta peluang tertular atau menularkan bagi yang kena virus tanpa gejala sangat potensial. Jadi tinggal diam di rumah saat ini adalah menjalankan prinsip TAT TWAN ASI. Anda melindungi Saya, Saya melindungi Anda.

5. NONG. KENONG merupakan salah satu alat musik tradisional yang dimainkan dengan dipukul oleh satu alat pemukul dan berfungsi sebagai penentu batas-batas gatra dan penegasan irama. Bahkan dalam tradisi Bali seperti saat upacara “ TABUH RAH” yang ada kalanya ditandai dengan “ADU AYAM” bunyi kenong itu dijadikan sarana untuk menentukan permainan “ADU AYAM” dalam tradisi “TABUH RAH” di mulai atau telah selesai.

Bunyi KENONG itu merepresentasikan sebagi pemutus atau komando, saat mulai dan berakhir. Artinya apa bila seluruh kita bisa memberikan makna dan kemudian mengaplikasikan dalam kehidupan kita saat ini dan akan datang, maka niscaya pandemi covid-19 akan berakhir. Jadi bila kita TENANG, HENING, TENUNG, MENENG di era pandemi ini karena sudah mulai merebak kemana-mana, niscaya akan segera bunyi KENONG sebagai pertanda berakhir.

Demikian diskripsi ringan ini untuk menambah wawasan tentang makna dari suatu kata, barangkali bisa dimanfaatkan untuk memberi arti dan sebagai salah satu alternatif dari jutaan alternatif solusi dalam memutus mata rantai pandemi covid-19.

Ini adalah ulasan di tengah-tengah WFH sebagai kanalisasi menghadapi kejenuhan dan jangan terlalu serius dipikirkan ulasan saya ini dan kalau berkenan dipakai, jika tidak buang saja. Sebab tulisan itu saya buat sambil gayung sepeda di pagi hari berolah raga. Matur Suksme Semeton sareng sami dumugi sehat dan bahagia bersama keluarga dan orang-orang dekat.
*Oleh: Prof. Dasi Astawa

Leave a Reply

Berikan Komentar

%d blogger menyukai ini: