Korek Gelar “Karangasem 1640” Kembangkan Kuliner, Cara Jitu Bangkit dari Bencana

Korek Gelar “Karangasem 1640” Kembangkan Kuliner, Cara Jitu Bangkit dari Bencana

(Baliekbis.com), Karangasem kini tengah bangkit dan terus berbenah pasca bencana erupsi Gunung Agung akhir tahun lalu. Berbagai upaya dilakukan salah satunya dengan menggali potensi ekonomi di bidang kuliner lokal. Event “Karangasem 1640: Traditional Market, Exhibition, Workshop, Talk Show” dengan tema “Kembangkan Kuliner , Cara Jitu Bangkit dari Bencana,” yang digelar di Puri Gede Karangasem, Sabtu-Minggu, 12-13 Mei 2018 menjadi salah satu acara strategis. Acara ini terselenggara atas kerjasama Korek (Komunitas Kreatif Karangasem), JCI (Junior Chamber International) Karangasem, Pemkab Karangasem, dan Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif).

Selain ada pasar tradisional, event ini menghadirkan pameran puluhan jenis produk pelaku ekonomi kreatif khususnya pula kuliner lokal khas Karangasem. Ada pula sesi workshop dari sejumlah narasumber seperti Deputi Riset dan Edukasi Badan Ekonomi Kreatif , perwakilan BNI, dll. Sesi talkshow diisi sejumlah pelaku insan kreatif dan kalangan profesional seperti fotografer Dewandra Djelantik, konsultan PR Yoke Darmawan, pendiri Bali Asli Restaurant Pennelope dan content creator Handoko Hendroyono yang juga produser film Filosofi Kopi dan program TV Viva Barista.

Salah satu inisiator Komunitas Kreatif Karangasem (Korek) yang juga inisiator acara “Karangasem 1640” ini, Ida Bagus Agung Gunarthawa mengatakan ide acara ini awalnya muncul dari destination branding “Karangasem The Spirit of Bali.” Pada intinya branding itu untuk mengangkat kembali semangat nilai-nilai Bali seperti nilai spiritual misalnya Tri Hita Karana, nilai integrasi seperti Desa, Kala, Patra. Lalu ada nilai kebersamaan seperti menyama braya serta nilai-nilai lainnya.

“Acara Karangasem 1640 ini salah satu langkah mengembalikan nilai-nilai itu melalui aktivitas kreatif. Misalnya pasar tradisional yang digelar mengangkat kearifan lokal, produk organik, tidak menggunakan plastik. Hidangannya juga tradisional yang merupakan ekspresi budaya masyarakat Karangasem,”papar Gunarthawa yang juga 2015 National President JCI Indonesia.

Di sisi lain, pembicara yang dihadirkan dalam sesi workshop dan talk show juga mempunyai konten yang akan menguatkan nilai-nilai kearifan lokal Bali. “Misalnya Pak Handoko mengangkat kopi menjadi film Folosofi Kopi dan serial TV. Ada juga Penelope pendiri Bali Asli Restaurant yang menghadirkan konten lokal seperti megibung, pesan klengis, jukut liklik, dll,” terang Gunarthawa.

Diharapkan juga acara ini bisa jadi spirit mengenang kelahiran Kota Amlapura 378 tahun silam dengan mengangkat potensi kuliner lokal di Karangasem dan mendukung destination branding “Karangasem The Spirit of Bali.” Potensi kuliner juga menjadi positioning strategis untuk membangkitkan ekonomi Karangasem pasca erupsi Gunung Agung.

Sebab, setiap peradaban melahirkan budaya kuliner masing-masing. Kuliner juga selalu menjadi kebutuhan masyakarat dan menjadi gaya hidup bersama dengan traveling. “ Kuliner juga menjadi salah satu prioritas di Bekraf selain musik dan fesyen. Jadi kuliner lokal ini sangat strategis terus kita gali potensinya,” pungkas Gunarthawa. (wbp)