Kepala Patung Garuda Wisnu Akhirnya Terpasang

(Baliekbis.com), Sejak masa perencanaan dan perancangan sampai tahun 2017 konstruksi patung Garuda Wisnu Kencana telah berjalan 28 tahun. Waktu yang tidak singkat untuk pembangunan sebuah patung dan kawasan kebudayaan (cultural park) seluas 60 hektar (dari rencana 240 hektar).

Secara perlahan kini sosok Garuda Wisnu Kencana mulai terbentuk. Bahkan diharapkan pada periode 25-31 November 2017, sosok Garuda sudah mengangkasa di ketinggian 230 meter di atas permukaan laut (dpl). Pada periode ini akan dinaikkan modul ke-234 dengan asumsi pemasangan sampai dengan tanggal 31 Oktober 2017 terpasang sebanyak 28 modul sehingga total modul terpasang berjumlah 262 keping dari jumlah total modul sebanyak 754 keping. Ke-28 keping (modul) itu terdiri dari 12 modul sayap dan 16 modul paruh bawah burung Garuda. Rabu (25/10) ini anda akan melihat burung Garuda menjadi utuh, dan ini akan menjadi sejarah baru dari pembangunan GWK, yang sudah dirancang sejak tahun 1989. Selama ini proses pembuatan modul GWK dilakukan di Studio Nyoman Nuarta, di kawasan Setra Duta Kencana, Sarijadi, Bandung (Jawa Barat). Pembuatan keping-keping GWK melibatkan ratusan seniman, bahkan 120 seniman turut mengerjakan pemasangannya di Bali.

Pemasangan wajah Garuda secara utuh ini, menurut penggagas GWK Nyoman Nuarta, diharapkan menandai penyelesaian tahap akhir dari perwujudkan patung. “Kita berharap GWK akan selesai bulan Agustus 2018 sebagai sosok patung. Tetapi kawasannya sebagai cultural park, masih terus akan dibangun dan dikembangkan,” kata Nuarta. Pada Agustus 2018, harap Nuarta, mimpinya mempersembahkan mahakarya kepada bangsa Indonesia dan dunia akan menjadi kenyataan. “Ini mimpi yang secara sabar saya rawat. Dalam perjalanannya menghadapi berbagai rintangan dan tentangan. Ini semua saya anggap sebagai pemicu kreativitas saya sebagai seniman,” kata maestro kelahiran Tabanan, Bali itu.

GWK sendiri muncul sebagai gagasan untuk menciptakan landmark pariwisata Bali tahun 1989. Kemudian tahun 1990 dimulai dengan pengembangan konsep dengan melibatkan Joop Ave (alm), Ida Bagus Oka (alm), Ida Bagus Sudjana (alm), dan seniman Nyoman Nuarta. Ketika pencarian lokasi, seluruh perencana sepakat untuk menggunakan perbukitan kapur di Ungasan, Jimbaran, yang selama ini tidak produktif. Lahan ini merupakan bekas lokasi penambangan kapur liar yang sudah ditinggalkan dalam keadaan yang kurang baik dan tidak ada tanaman yang mampu hidup dikarenakan oleh minimnya top soil. Setelah mendapat restu dari Presiden Soeharto (1993) dilakukan sosialisasi di hadapan para anggota dan pimpinan DPRD Bali, tokoh-tokoh masyarakat Bali, diliput oleh media, serta masyarakat di sekitar lokasi GWK. Meski pada awalnya menuai pro dan kontra, ground breaking pedestal GWK dilakukan pada tahun 1997. Tetapi sebelumnya pada periode 1994-1996 telah dilakukan pengolahan terhadap land art di sekitar Bukit Ungasan, Jimbaran, hingga menjadi seperti sekarang ini.

Selama periode awal tahun 2000, setelah dilangsungkan GWK Expo 2000, GWK selama tahun-tahun berikut mengalami pasang-surut. Kawasan ini bahkan sempat terkatung-katung antara dilanjutkan atau tidak, walau pengelolaannya masih terus berlangsung. Pada saat itu, seniman Nyoman Nuarta memiliki 82% saham atas GWK namun akibat krisis yang berkepanjangan, Nyoman Nuarta tidak mampu mempertahankan kepemilikan saham tersebut sehingga akhirnya pada tahun 2012 harus merelakan PT Alam Sutra Realty Tbk untuk mengakuisisi saham GWK. “Kini tugas saya hanya sebagai seniman. Saya berkewajiban menyelesaikan GWK seperti janji saya 28 tahun yang lalu,” kata Nuarta.  Nuarta menyelesaikan GWK di bawah PT Siluet Nyoman Nuarta (SNN), yang mengawal investor agar taat pada komitmen menyelesaikan pembangunan GWK.

Kehadiran GWK, kata Nuarta, selain menjadi landmark baru pariwisata Bali yang selama ini mengandalkan warisan, juga akan menjadi pembuktian bahwa di negara berkembang seperti Indonesia lahir mahakarya untuk dunia. Dalam forum-forum ekonomi dan politik, sebagai negara, Indonesia hanya dilihat sebelah mata. “GWK akan jadi bukti bahwa kita berdaulat di bidang kebudayaan, dan kita harap kiblat kebudayaan dunia itu akan terjadi di GWK Cultural Park, karena di sini tidak hanya ada patung, tetapi juga forum-forum kebudayaan dunia,” ujar Nuarta. Secara fisik GWK akan memiliki ketinggian 121 meter, dan akan menjadi patung tembaga dengan teknik cor las terbesar di dunia. Teknik cor las juga akan menandai pertama kalinya patung sebesar GWK dikontruksi dengan pengelasan keping demi keping. Patung-patung seperti Liberty di New York, pada umumnya dikerjakan dengan teknik cor logam. Nyoman Nuarta menemukan teknik pembesaran patung dengan menggunakan rumus: apabila sebuah bentuk bebas (anorganis) diiris horisontal dan maupun vertikal dengan jarak tetap, kemudian garis-garis luar (outline) tersebut diperbesar berdasarkan skala, kemudian disusun kembali sesuai koordinat yang tetap, maka akan terbentuk pembesaran menyeluruh sesuai skala yang dikehendaki. “ Sederhananya pembesaran skala patung dilakukan dengan teknik las cor dan ini sudah saya patenkan,” kata Nuarta. (ist)