Kemenpora Beri Pembekalan Pemuda Mandiri

(Baliekbis.com), Puluhan pemuda-pemudi dari beberapa kabupaten yang ada di Bali mendapat pembekalan pemuda mandiri di desa oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI. Pembekalan Pemuda Mandiri Membangun Desa 2017 dengan tema “Membangun spirit kepeloporan pemuda yang kreatif dan inovatif menuju kemandirian bangsa” dibuka Asisten Deputi Kepemimpinan, dan Kepeloporan Pemuda Kemenpora, Ibnu Hasan. Ibnu Hasan menerangkan, pembekalan selama tiga hari dari tanggal 13-15 Oktober 2017 dilakukan agar para pemuda Indonesia pada umumnya dan di Bali khususnya kelak bisa menjadi pemuda pemudi yang mandiri, mawas diri, tahu diri, toleran dan memiliki nilai-nilai kebhinekaan. “Kita bekali mereka dengan ilmu yang bermanfaat agar kelak bisa jadi sukarelawan. Intinya mereka harus lebih baik dari kami karena tantangan sekarang itu lebih sulit. Mereka harus lebih ulet, tahan banting, toleran, mawas diri, tahu diri, pokoknya harus lebih dari kami,” ucapnya, Jumat (13/10) di Denpasar.

Dikatakan pemuda harus sebagai objek, dan ini merupakan arahan Presiden RI Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Hasan melanjutkan, saat ini ada sekitar 1.500 orang pemuda-pemudi dari 10 provinsi yang diberikan pembekalan termasuk Bali. “10 provinsi tersebut yakni Palembang, Lampung, Kalimantan Barat dan Timur, Sulawesi Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan termasuk Bali,” jelasnya. Ketua Panitia Teras Ide, Sofiyan Halim mengatakan, dalam pembekalan pihaknya menghadirkan 8 orang pemateri atau narasumber yang datang langsung dari Jakarta. “Ada tim Indonesiaku. Pelatihan ini materinya lebih ke kerajinan, sandang, materi tentang pengembangan usaha bidang pangan, dan Event Organizer (EO). Pesertanya disharing dari Kemenpora,” terangnya. Dari Bali ada sekitar 42 orang yang lulus seleksi dari Kemenpora, dimana pada tanggal 3 Oktober 2017 lalu telah dilakukan “technical meeting”.

Output dari event ini katanya menciptakan pemuda pelopor yang mandiri di desa masing-masing. “Jadi pesertanya satu orang satu desa. Mereka diberi anggaran sekitar Rp13 juta per orang. Dana itu untuk dikembangkan, dan mereka membuat proposal,” imbuh Sofiyan Halim. Selain materi para peserta juga diberikan honor perbulan Rp 3 juta. Selain itu, tiap peserta juga harus mendapatkan dukungan dari masing-masing desanya. Salah satu peserta bernama Bagus Pramartha yang berasal dari Banjar Pengabetan, Desa Kuta, Badung, menceritakan, kegiatan tersebut menurutnya sangat bermanfaat baik bagi segi diri sendiri, dan masyarakat di desanya. “Kita dilatih kepemimpinan serta pelatihan dengan materi bagaimana bisa membangun di desa. Tapi kita terkendala dengan biaya. Bersyukur pemerintah memberikan pendanaan. Proposal sudah dibuat rancangan sudah buat. Ada 5 program termasuk olahraga,” ucapnya. (bas)