Harga Karet Tidak Mencerminkan Keadaan Ekonomi

(Baliekbis.com), Pertemuan antara Para Pejabat Teras Komite Karet Tripartit Internasional (International Tripartite Rubber Council — ITRC) dan Direksi International Rubber Consortium (IRCo) berakhir dengan kesimpulan bahwa harga karet alam atau yang lebih dikenal sebagai Natural Rubber (NR) tidak sesuai dengan keadaan ekonomi yang mempengaruhinya. Walaupun ketiga Pemerintah Negara — Thailand, Indonesia & Malaysia — menyampaikan keprihatinannya akan harga karet yang cenderung terus menurun dan faktor pasar yang tidak mendukung, mereka memiliki keyakinan bahwa pasar NR akan membaik dan harga karet harus mencerminkan keadaan ekonomi sebenarnya.

 

Dalam pertemuan tersebut, para peserta membahas kesejahtaraan para pemilik perkebunan karet kecil dan industri karet di negara masing-masing, serta faktor-faktor yang mempengaruhi harga karet maupun langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan harga NR. Kedua ITRC dan IRCo sangat tertarik dengan hasil analisa teknis pergerakan harga pada Bursa Komoditas Tokyo (Tokyo Commodity Exchange — TOCOM), Bursa Berjangka Shanghai (Shanghai Futures Exchange — SHFE), dan Bursa Komoditas Singapura (Singapore Commodity Exchange — SGX) yang menunjukkan bahwa pasar saat ini sedang berada dalam fase konsolidasi, sebuah momentum baru dalam menetapkan arahan baru pada pasar.

 

Pandangan serupa bahwa pasar berada dalam fase konsolidasi juga didukung oleh analisis pergerakan terbuka — jumlah keseluruhan kontrak berjangka terbuka (belum ditutup atau diserahkan) yang ada dan diserahkan dalam satu hari — yang menunjukkan bahwa TOCOM, SHFE, dan SGX berada dalam posisi oversold, sehingga menyebabkan short covering dalam waktu dekat. Analisis ini sejalan dengan situasi yang dijumpai di kawasan-kawasan produksi di bumi belahan selatan, khususnya Indonesia, yang diperkirakan akan mengalami penurunan produksi seiring memuncaknya musim peluruhan daun. Penurunan produksi di Thailand dan Malaysia juga diperkirakan akan terjadi melihat harga karet yang rendah dan perubahan iklim, ditambah dengan curah hujan tinggi di Thailand bagian utara yang sangat mempengaruhi produksi karet di sana.

 

Adapun konsumsi NR untuk tahun 2017 diramalkan akan terus meningkat, didukung oleh pertumbuhan GDP dunia yang lebih baik, dengan pertumbuhan GDP yang positif negara-negara ekonomi raksasa dan membaiknya indeks komoditas semakin meningkatkan sentimen pasar NR. Sementara itu, revisi perkiraan bulan Juli dari Badan Keuangan Dunia atau International Monetary Fund (IMF) akan pertumbuhan GDP menjadi 3,5% untuk tahun 2017 lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya pada bulan Januari sebesar 3,4% dan juga performa GDP tahun 2016, yaitu 3,2%.

 

GDP negara-negara utama pengguna NR seperti AS, Jepang, UE, dan India diperkirakan akan membaik, sementara GDP RRC diramalkan akan tetap berada pada tingkat 6,7%. Pertumbuhan ekonomi RRC sendiri untuk K1 2017 dan K2 2017 adalah 6,9%, yang sudah jauh melampaui perkiraan GDP, dan merupakan performa tertinggi dalam 18 bulan terakhir. Hal ini menunjukkan permintaan yang besar. Penjualan mobil dalam 6 bulan pertama tahun ini pada pasar utama pengguna NR — RRC, UE, & Jepang — juga mencatat pertumbuhan positif, yaitu 3,8%, 4,7%, dan 9,2% untuk masing-masing negara.

 

“Kami sangat yakin bahwa semua latar belakang ekonomi di atas dan pola konsumsi tersebut telah berdampak pada perubahan rasio konsumsi stok NR dari 3,02 pada awal tahun 2016 menjadi 2,38 di bulan Juli 2017 dan diperkirakan akan terus menurun hingga 2,34 di akhir tahun 2017,” ujar Ketua Direksi IRCo, Bpk. Mesah Tarigan.  Sebaliknya, Himpunan Negara-Negara Penghasil Karet Alam (Association of Natural Rubber Producing Countries — ANRPC) memperkirakan akan terjadi defisit pada jumlah penawaran dan permintaan global NR tahun 2017 meskipun analisis tersebut tidak memperhitungkan kemungkinan penurunan produksi NR di Thailand dan Malaysia oleh karena harga yang menurun dan perubahan iklim. ITRC dan IRCo akan terus memantau dan melihat perubahan pasar serta mempertimbangkan berbagai langkah yang dapat dilakukan dalam meningkatkan harga NR untuk membantu pemilik perkebunan karet kecil pada negara-negara ITRC sehingga mereka bisa mendapatkan penghasilan yang memadai.

 

Di samping itu, ketiga negara juga bertekad untuk berfokus pada keseimbangan jangka panjang antara penawaran dan permintaan dan dalam hal ini, mereka menyambut gembira rencana Pemerintah Thailand untuk menutup lahan perkebunan karet seluas 240.000 yang akan mengurangi jumlah produksi karet sebanyak 360.000 per tahun. Thailand, Indonesia, dan Malaysia akan terus mempelajari langkah-langkah jangka panjang untuk meningkatkan konsumsi NR dalam negeri masing-masing dan bekerja sama dalam kerangka ITRC untuk kestabilan harga NR jangka panjang. (ist)