Film ‘Pulau Plastik’, Angkat Bahaya Sampah Plastik Bagi Bali

(Baliekbis.com), Film dokumenter ‘Pulau Plastik, yang akan tayang perdana di Bali pada 22 April mendatang diharapkan menjadi salah satu upaya yang efektif mengedukasi maayarakat dalam pencegahan bahaya sampah plastik.

Protagonis (Tokoh Utama) Tiza Mafira menuturkan, dirinya yang juga aktivis lingkungan hidup diet kantong plastik ini cukup lama terlibat dalam kampanye pencegahan penggunaan plastik sekali pakai.

“Awalnya belum ada peraturan, kemudian saya mendampingi pemerintah membuat regulasi kampanye plastik sekalu pakai. Saat ini 40 kota sudah ada regulasi, termasuk juga Bali,” ujarnya dalam jumpa pers yang dipandu Rofiqi Hassan, Minggu (18/4) di Kebon Vintage Cars. Jumpa pers mengangkat tema “Bergerak Untuk Masa Depan”.

Menurutnya masyarakat sudah muak dengan adanya plastik sekali pakai ini. Namun mereka kerap disuguhkan barang ini ketika berbelanja. “Saya saja kalau pesan minuman kerap diberi pipet, padahal tidak minta,” jelasnya mencontohkan.

Sementara Produser Lakota Moira menuturkan film ini diawali dari Bali, karena adanya pencemaran sampah plastik. “Banyak masalah plastik hanya terekspos saja, tapi tidak ada solusinya,” tuturnya.

Tiza Mafira

Hal senada disampaikan Produser Eksekutif Ewa Wojkowska bahwa melalui film dokumenter ini bisa membangun kesadaran masyarakat tentang bahaya sampah plastik.

VP Marketing dan Promotion, Chyntia Kartika Sari menjelaskan, film ini akan tayang di XXI mulai 22 April dan disusul di beberapa kota-kota besar di Indonesia. “Film ini memberikan solusi dan edukasi tentang bahaya sampah plastik. Jadi dengan nonton film ini sudah ikut aksi pencegahan sampah plastik,” katanya.

Dijelaskan ini bukan sekadar film, tapi sebuah aksi dan solusi untuk semua. “Pencegahan adalah yang utama, selain daur ulang. Pencegahan melalui regulasi berhasil menurunkan 40-80 persen. Sedangkan recicle hanya berkisar 9 persen,” tambahnya.

Sutradara Dhandy Dwi Laksono mengaku senang bisa terlibat dalam penggarapan film ini. “Tidak terlalu sulit dalam mengambil adegan, karena para pemeran sudah organik dan faham betul,” tuturnya.

Sementara Protagonis, Prigi Arisandi mengatakan, di Indonesia terdapat puluhan pabrik plastik. Namun sebagian pabrik itu mengimpor sampah plastik dari negara maju. Kendatipun ada kebijakan pelarangan, tetapi mereka melakukan cara sembunyi-sembunyi memasukkannya.

Pratagonis Gede Robi menuturkan, sebelum dibuat film awalnya sangat sederhana. Namun setelah masuk, ternyata isu plastik tidak semudah yang dibayangkan. Salah satunya yang didaurulang dari seluruh produksi hanya 9 persen. “Plastik itu ekonomis murah, tapi pasca pemakaian itu lebih besar,” ujarnya.(ist)