Ekonomi Bali Hadapi Covid-19, “Cepat Bergerak atau Mati Perlahan”

DAMPAK pandemi Covid-19 terhadap perekonomian Bali triwulan ke-1 tahun 2020 sangat mengejutkan.Terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi hingga minus 1,14%.

Tidak pernah dalam 20 tahun terakhir, perekonomian Bali mengalami guncangan seberat ini. Hantaman dampak ekonomi global terhadap ekonomi Bali belum pernah separah ini (bandingkan dengan Asian Finansial Crisis 1997/98, maupun Global Finansial Crisis 2008).

Secara global pandemi Covid-19 membawa dampak negatif paling berat/high impact pada sektor pariwisata, termasuk hotel, restoran, transportasi dan agen perjalanan. Untuk medium impact dan low impact terjadi di sektor komoditas pertanian, perkebunan, perikanan dan yang menyangkut makanan pokok, E commerce, kemasan maupun alat-alat kesehatan (David Samuel,webinar April 2020).

Perekonomian Bali, yang sebelumnya sangat mengandalkan kedatangan wisatawan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, triwulan I ini mencapai titik yang disebut terjun bebas. Penurunan sangat tajam terjadi baik untuk wisman dan domestik.
(Kwartal I/20 -21,82% dan – 13,79%. BPS Bali.)

Sedangkan di sektor pertanian, yang diharapkan sebagai penyangga ekonomi Bali dalam situasi pandemi ini tidak tumbuh secara berarti (hanya naik 0,08 %).
Kondisi ini memperparah perekonomian Bali menghadapi Covid-19.
Menghadapi sisa kwartal ke 3 tahun 2020, harus ada upaya untuk menjaga ekonomi Bali agar tidak terperosok lebih dalam.

Baca Juga :   Pasangan “Aman”, Bupati Gianyar 2018-2023

Untuk menghindari dampak sosial yang lebih parah, slogan “Cepat Bergerak atau Mati Perlahan”. Ini menjadi motivasi yang lagi tren.
Skenario new normal yang dicanangkan pemerintah pusat bulan ini, merupakan momentum yang tepat untuk bergerak.

Kebijakan ekonomi berupa stimulus,bisa membantu menolong meringankan daya beli masyarakat kelas menengah kebawah.
Bisa mempercepat penanganan wabah Covid-19. Mendorong kinerja sektor riil serta kinerja pelaku usaha di sektor riil dan sektor keuangan.
Kita berharap langkah dan kebijakan ekonomi yang telah diambil Gubernur Bali, dan rencana pemberlakuan skenario new normal Tata Kehidupan Bali Baru, bisa segera mengurangi beratnya beban ekonomi Bali yang dirasakan masyarakat.

Langkah-langkah kebijakan ekonomi baru ini bisa menjadi landasan kuat untuk restrukturisasi perekonomian Bali yang untuk pencapaian target pertumbuhan ekonominya harus lebih berkualitas dan berkeadilan. Semoga. *N. Senimantara (Dosen Unwar)

Leave a Reply

Berikan Komentar

%d blogger menyukai ini: