Dialog dengan Pengrajin Desa Tenganan, Koster Jamin Kelestarian Tenun Bali

(Baliekbis.com), Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Bali nomor urut 1, Wayan Koster-Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati (Koster-Ace) menggelar kampanye di sejumlah titik di Kabupaten Karangasem. Salah satunya, Koster yang didampingi Cok Ace berdialog dengan pengrajin tenun Pegringsingan di Desa Tenganan.

Di desa tertua di Bali itu kandidat yang diusung PDI Perjuangan, Hanura, PAN, PPP, PKB dsn PKPI itu melihat secara langsung proses penenunan kain yang tersohor itu. Koster-Ace juga mendapat penjelasan langsung dari pemilik kerajinan, Nengah Wartawan.

Kepada Koster, Wartawan bercerita jika proses penenunan membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Sementara untuk proses pewarnaan memakan waktu yang cukup lama. Untuk membuat satu warna, misalnya warna merah, dibutuhkan waktu sekitar satu tahun. Proses pewarnaannya juga tak bisa langsung seketika, melainkan per triwulan sekali. “Kalau langsung nanti warnanya bercampur dengan warna yang lain. Makanya tiga bulan sekali agar kering dulu, baru diwarnai lagi,” tutur Wartawan, Senin (12/3).

Sementara itu, yang paling krusial dari penenunan ini adalah bahan baku. Untuk warna, bahan bakunya diambil dari Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. “Di sana yang terbaik, karena pewarnaan ini dari bahan alami yaitu buah mengkudu dan di sanalah yang terbaik, karena buah mengkudu di sana tumbuh di atas batu kapur,” jelas Wartawan.

Sementara untuk proses dari awal hingga menjadi kain tenun, Wartawan mengaku diperlukan waktu sekitar dua tahun. “Tergantung juga pada panjangnya kain. Minimal dua tahun dari nol sampai jadi kain. Rata-rata kain tenun di sini menyimbolkan laki-laki dan perempuan,” katanya.

Sementara itu, Wayan Koster memastikan agar kain tenun Pegringsingan wajib dilestarikan. “Ini harus dilindungi,” tegasnya. Menurut dia, demi kelestarian kain tenun Pegringsingan maka harus diatur mulai dari hulu hingga hilir.

“Ini harus dari hulu hingga ke hilir diurusi. Hulunya itu kan menjamin ini bisa terus berjalan seperti kebutuhan bahan baku akan benangnya, pewarnanya dan lainnya. Begitu juga di hilir harus dipastikan dengan baik,” tutur Koster.

Koster mendapat informasi dari Wartawan jika bahan baku pewarna yakni buah mengkudu mulai hampir sulit dicari. Penyebabnya tak lain karena alih fungsi lahan yang terjadi secara massif di mana-mana. Ke depan, Koster mengusulkan agar dibuat perkebunan yang khusus menanam buah mengkudu agar tenun Pegringsingan tak punah. “Harus ditanam ini buah mengkudunya,” ucap Koster.(lit)