Dendang Kencana 2017 Lestarikan Lagu Anak-anak

(Baliekbis.com), Rangkaian “Dendang Kencana 2017” kini tiba pada perhelatan puncaknya, yakni Lomba Paduan Suara Anak Kategori TK dan SD. Program ini telah bermula sedari bulan April 2017, diawali Workshop Cipta Lagu Anak, Lomba Cipta Lagu Anak dan Workshop Musik, Vokal dan Gerak.
Lomba Paduan Suara Anak Tingkat TK dan SD ini berlangsung di 4 kota: Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Bali.

Di Bali, lomba ini diselenggarakan pada 22-24 November 2017 bertempat di Bentara Budaya Bali (BBB), Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, bypass Ketewel, Gianyar. Saat ini pendaftaran peserta untuk TK dan SD masih dibuka hingga tanggal 12 November 2017. Technical Meeting (TM) dilaksanakan pada 14 November 2017.

Sebelumnya, lomba telah digelar di Jakarta (26-28 Oktober 2017), dan Yogyakarta (17-19 November 2017), serta mendatang di Surabaya (27-29 November 2017). Melalui lomba ini, diharapkan para siswa berbagai sekolah lebih mengenal kembali lagu anak yang sesuai dengan usia mereka, yang dibawakan dalam bentuk paduan suara yang elok dan menarik.

Masing-masing kategori akan memilih juara 1, 2 dan 3 serta 2 juara Harapan. Penilaian lomba berdasarkan suara yang meliputi artikulasi, intonasi, dan artistik atau penampilan di atas panggung. Dan khusus untuk peserta tingkat SD penilaian ditambah dengan teknik bernyanyi.

Tampil sebagai juri lomba di Bali yakni Aning Katamsi, Caecilia Hardiarini dan Sonia Nadya Simanjuntak.

Lagu Untuk Anakku

Dendang Kencana merupakan sebuah kegiatan kepedulian pada anak-anak dan guru, khususnya lewat lagu anak, yang diadakan Kompas Gramedia. Program ini sekaligus menjadi kampanye “Lagu Untuk Anakku”. Sejumlah musisi dan figur terpilih turut serta mendukung serta menyuarakan hal ini.

“Dendang Kencana adalah bentuk kepedulian dan respon dari Kompas Gramedia atas langkanya lagu anak dan kurangnya anak menyanyikan lagu anak,” ungkap Paulina Dinartisti, Ketua Umum Panitia Dendang Kencana 2017.

Program Dendang Kencana ini diawali Workshop Cipta Lagu Anak, dengan pemateri ialah komposer, musisi dan produser musik Indonesia yang bereputasi internasional, Dian HP dan Caecilia Hardiarini yang merupakan Dosen Jurusan Seni Musik Universitas Negeri Jakarta.

Selain itu digelar pula Workshop Musik, Vokal dan Gerak bersama musisi mumpuni Indonesia, Aning Katamsi dan Sonia Nadya Simanjuntak. Dalam Lomba Cipta Lagu Anak “Dendang Kencana 2017”, diikuti 600 peserta se-Indonesia. Telah ditetapkan masing-masing 10 Lagu Pemenang tingkat TK dan SD. Lagu-lagu para juara ini dijadikan sebagai materi lomba paduan suara anak-anak tingkat TK dan SD.

Adapun lagu-lagu pilihan tersebut antara lain, untuk TK: Aku Anak Mandiri; Bersepeda; Indonesiaku; Kanan dan Kiri; Kerlip Bintang; Pagiku; Sepatuku; Terimakasih Ayah Ibu; Tirukan Gerak Hewan serta Wortel dan Bayam. Sedangkan untuk SD: Aku Bisa; Aku Cinta Indonesia; Aku Suka Membaca; Ayo Hemat; Bersyukur; Danau; Hai Lebah; Tubuhku Sehat; Wahai Guru dan Yuk Kita Makan!.

Sebagai lagu wajib yakni Dendang Kencana, ciptaan AT Mahmud.

Dendang Kencana awalnya diadakan oleh Penerbit Grasindo di tahun 1990 bersama pengarang lagu anak, AT Mahmud, dan diadakan kembali di tahun 1992. Sejak tahun 1993, Dendang Kencana diadakan setiap tahun hingga terakhir kali diadakan pada tahun 1996. Pada penyelenggaraan DK di tahun-tahun tersebut, AT Mahmud langsung terjun sebagai narasumber ahli dan juri lomba. Karya-karyanya pun diperlombakan di sana, termasuk lagu tema “Dendang Kencana“ yang beliau ciptakan dalam rangka menyambut pelaksanaan kegiatan ini.

Pada masa tahun 70-90an, kita kenal banyak sekali lagu anak-anak yang populer seperti Naik Delman, Balonku, Topi Saya Bundar, Dua Mata Saya, Lihat Kebunku, Tik-tik Bunyi Hujan, Ambilkan Bulan, Anak Gembala, Libur Tlah Tiba, Amelia, dan masih banyak lagi. Lagu-lagu tersebut terus melekat di ingatan kita, sebagai sebuah kenangan yang indah dan bahagia di masa kanak-kanak dulu, hingga kita dewasa. Kita bahkan juga turut memperkenalkan lagu-lagu tersebut kepada anak-anak secara turun temurun hingga kini.

Di masa itu banyak pencipta lagu anak yang terus berkarya hingga akhir hayat mereka, seperti Pak Daljono, Pak & Bu Kasur, Ibu Soed, dan Pak AT Mahmud. Mereka berkarya dengan hati, dengan segenap kemampuan di dalam kesederhanaan dan tidak berorientasi komersil. Tema lagu anak yang mereka buat berasal dari kehidupan di sekitar kita seperti kebiasaan sehari-hari anak-anak, keindahan alam, orang tua serta rasa syukur pada Tuhan. Notasinya sederhana dan syairnya mudah dihafalkan oleh anak-anak seantero negeri.

Kondisi yang sangat berbeda sekarang terjadi. Anak-anak tidak mendapatkan haknya menikmati keceriaan mereka karena televisi tidak lagi menjadi sumber hiburan utama mereka. Televisi dan radio makin jarang menayangkan acara khusus anak-anak, apalagi siaran lagu anak-anak. Kalau pun ada siaran anak-anak, biasanya dikemas ala dewasa dan keluar dari koridor dunia anak-anak. Jika ada lomba vokal untuk anak-anak pun yang ditonjolkan adalah sisi kehidupan di balik kemampuan mereka bernyanyi.

Kondisi seperti ini juga terjadi di sekolah-sekolah dengan berkurangnya muatan pelajaran seni musik dan vokal dari kurikulum. Anak-anak lebih difokuskan kepada pendidikan eksakta yang jauh dari berolah vokal dan musik. Belum lagi keterbatasan guru seni musik & vokal yang memang mengerti betul bidang tersebut dan mempunyai layar belakang yang sesuai.

“Indonesia butuh lagu anak-anak yang berkualitas tinggi sebagai sarana untuk mendidik dan memberi arahan positif bagi kehidupan anak-anak bangsa. Dendang Kencana 2017 kembali digerakkan oleh Kompas Gramedia agar para guru TK dan SD dapat menggali ilmu dari para narasumber, lalu sama-sama bergerak untuk menciptakan lagu-lagu bagi anak-anak dan akan kita bagikan, kita persembahkan bagi anak Indonesia,” terang Frans Sartono, selaku Steering Committee Dendang Kencana 2017.

Beliau juga menyebutkan bahwa lagu anak-anak pada masanya telah membawa kenangan yang indah dan berdampak positif bagi anak-anak yang sekarang sudah dewasa atau bahkan sudah mempunyai anak.

“Untuk itu kami mengajak semua pihak untuk peduli dan bersama-sama mengembalikan kejayaan lagu anak untuk generasi penerus bangsa Indonesia,” pungkas Paulina Dinartisti. (ist