Deklarasi The Nubanara Institute di Museum Bung Karno

(Baliekbis.com), Bertepatan dengan Tahun Baru Hijriah, 11 September 2018 sejumlah warga Bali asal Flores Timur dan Lembata mendeklrasikan lembaga kajian soal The Nubanara Institute (TNI). Deklarasi dilakukan di ruang rapat Perpustakaan Bung Karno, Selasa (11/9) siang ditandai dengan mengucapkan Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Acara tersebut dihadiri Ketua Yayasan Perpustakaan Agung Bung Karno Ida Bagus Darmika Wedastra Putra dan sejumlah jajarannya.
Penggagas The Nubara Institute, Umar Ibnu Alkhatab mengatakan, lembaga kajian sosial ini merupakan kajian nirlaba yang dibentuk beberapa individu dari Flores Timur, NTT dengan beragam latar belakang agama, suku dan pendidikan. “Lembaga ini dibentuk untuk ikut berkontribusi pada pembangunan dalam skala lokal, regional dan nasional melalui pemikiran dan kajian-kajian. Dan ke depan fokus utama kita membahas isu-isu aktual yang sedang menjadi perhatian publik,” kata Umar Alkhatab.

Sementara salah satu Dewan Pendiri, Usman Atapukan mengatakan, deklarasi lembaga kajian sosial ini momentumnya sangat tepat karena bertepatan dengan Rasulullah melaksanakan hijrah dari Mekah ke Madinah tidak melalui jalan utama. Setelah kaum muslimin Makkah hijrah ke Yastrib atas perintah Rasulullah maka Masjid ini dikenal dengan Masjid Quba, dalam Al-Qur’an disebut juga Masjid Taqwa. “Bila kita kaitkan situasi saat ini maka, peluncuran lembaga kajian sebagai penanda kita hijrah dari pemikiran lama ke pemikiran modern,” kata Usman Atapukan.

Ketua Yayasan Perpustakaan Agung Bung Karno Ida Bagus Darmika Wedastra Putra dalam pengantarnya mengatakan, hadirnya lembaga kajian yang diluncurkan di Perpustakaan Agung Bung Karno diharapkan bisa memberi kontribusi bagi Bali, NTT dan Indonesia pada umumnya. “Kalau saya tak memberi tempat ini, maka saya kualat. Tanpa Flores kita tak mengenal Pancasila yang dilahirkan pendiri bangsa Bung Karno. Lembaga kajian ini bisa memainkan peran strategisnya untuk kemajuan tanah air dan bangsa,” kata Gus Marhaen sapaannya.

Sementara Direktur Eksekutif The Nubanara Institute, Agustinus Apollonaris Daton mengatakan ke depan lembaga ini berusaha melahirkan pemikiran-pemikiran konstruktif yang bisa mempengaruhi kebijakan pemimpin di berbagai level. “Tentunya kami akan melakukan kajian dan riset untuk memahami fenomena sosial, ekonomi, budaya dan politik yang ada. Momentumnya pas, yakni tahun baru Hijriah. Cara berpikir lama menuju cara berpikir baru yang mengadaptasi dinamika yang berkembang di masyarakat,” kata Apollo.

Pemilihan tempat deklarasi juga memberi informasi bahwa lembaga ini berorientasi pada nilai intelektual yang dibangun Bung Karno dan mengambil ikhtiar pendiri bangsa sebagai energi bagi lembaga ini. Sebelum penyerahan kenang-kenangan Gus Marhaen didapuk sebagai Dewan Kehormatan The Nubanara Institute. (pol)