Bentara Budaya Bali Gelar Pameran ‘Ibu Rupa Batuan’

(Baliekbis.com), Bentara Budaya Bali (BBB) kembali menghadirkan program pameran lintas generasi. Kali ini, merujuk tajuk “Ibu Rupa Batuan”, dipamerkan karya seni lukis dan topeng Batuan dari generasi pendahulu hingga yang terkini. Pameran ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dr. I Wayan Adnyana, pada Minggu (08/09), pukul 18.30 WITA di BBB.

Kurator pameran, Wayan Jengki Sunarta, mengungkapkan bahwa eksibisi menampilkan 76 karya seniman. Terdiri dari 52 karya seni lukis dan 24 karya seni topeng. Pameran seniman Batuan lintas generasi ini adalah bentuk penghormatan terhadap ibu. Dari perbedaan generasi tersebut, tecermin bagaimana perkembangan serta pertumbuhan seni lukis dan topeng di Desa Batuan.

Terkait tema pameran, Wayan Jengki Sunarta menjelaskan, Ibu Rupa Batuan merujuk pada konteks harfiah sekaligus juga filosofis. “Ibu” menjadi metafora atau simbolisasi terkait spirit penciptaan, olah batin, untuk menghasilkan suatu karya yang memesona dan membuka ruang renung bagi khalayak pecinta seni.

“Ibu adalah kosa kata yang sangat akrab dengan kehidupan kita. Secara biologis, ibu adalah sosok yang melahirkan, mengasuh, dan membesarkan kita. Ikatan batin antara ibu dan anak adalah suatu keniscayaan yang tidak luntur digerus waktu. Ibu bisa juga dimaknai sebagai suatu pusat, ikatan, atau muasal. Pada tataran yang lebih luas, bumi (tanah dan air) sering disebut “ibu pertiwi” di mana setiap penghuninya saling terhubung dalam satu kesatuan kosmologi,” ungkapnya.

Sebagai wilayah budaya, Desa Batuan bisa disebut ibu yang melahirkan dan memelihara aneka ragam kesenian yang bisa dinikmati hingga kini. Selain seni lukis, di Batuan juga lahir seni pahat topeng, ukiran, dan dramatari Gambuh. Bahkan seni lukis tradisional gaya Batuan telah ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2018.

Peserta pameran ini tergabung dalam Perkumpulan Pelukis Baturulangun, Batuan. Adapun generasi tertua adalah Ida Bagus Made Widja (1912-1992), Ida Bagus Made Togog (1913-1989), Nyoman Ngendon (1920-1947), I Made Djata (1920-2001). Sementara generasi termuda adalah I Wayan Aris Sarmanta (1995).

Para seniman lain yang karya lukisannya turut dipamerkan diantaranya: Ketut Tomblos (1922-2009), Wayan Punduh (1923-2011), Wayan Regug (1927-), Dewa Kompyang Pasek (1928-2009), I Wayan Taweng (1929-2004), I Wayan Kabetan (1931-2006), Mangku Made Budi (1932-2017), Mangku Nyoman Barak (1935-2009), Made Tubuh (1942), I Ketut Manggi (1942),  I Wayan Rajin (1945-2000), Ketut Reta (1949), I Wayan Bendi (1950), I Ketut Murtika (1952), Ida Bagus Asta (1954), Gusti Ngurah Muryasa (1958), I Wayan Warsika (1959), Ketut Suarnawa (1959), Dewa Putu Arsania (1960).

I Made Nyana (1960), I Made Renanta (1962), I Wayan Malik (1963), Gusti Ayu Natih Arimini (1963), I Made Sujendra (1964), Dewa Ketut Tilem (1965), I Nyoman Toyo (1966), I Nyoman Marcono (1966), Nyoman Sudarsana (1966), I Ketut Sadia (1966), Pande Made Martin (1967), I Nyoman Kastawa (1970), I Ketut Balik Parwata (1971), Ida Bagus Putu Padma (1972), I Wayan Dana Wirawan (1974), I Nyoman Selamet (1974), Dewa Nyoman Martana (1976), I Wayan Diana (1977), I Nyoman Sudirga (1979), I Made Griyawan (1979), I Made Karyana (1981), Dewa Made Virayuga (1981), I Gede Widyantara (1984), I Wayan Eka Mahardika Suamba (1985), Nyoman Nurbawa, Gusti Ngurah Agung, Ida Bagus Ketut Karunia, Wayan Win, I Made Suteja.

Sementara itu, seni topeng diwakili oleh seniman I Made Regug (1939), I Made Sama,  I Made Degus Armawan, I Made Rudi, I Nyoman Koto, I Nyoman Jaya, I Ketut Mujiarta, I Nyoman Selamet, I Made Muji, I Nyoman Ruka, I Wayan Murda, I Wayan Dawig, Made Warja, Dewa Made Sumerta, I Wayan Suwija, I Made Wirda, I Ketut Mendra, I Made Ardita, I Wayan Sudiarsa, I Nyoman  Lanus, I Nyoman Budi, I Nyoman Maji, Ketut Wirtawan, Dewa Made Virayuga (1981).

“Pameran ini membuktikan bahwa seni tradisi di Batuan masih tetap tumbuh dan berkembang. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam seni tersebut diwariskan secara masif dari generasi ke generasi. Upaya-upaya pewarisan itu sangat memungkinkan terjaganya spirit penciptaan seni di Desa Batuan,” ujar Wayan Jengki Sunarta. (ist)