Bali Targetkan 2030 Bebas TBC

(Baliekbis.com), Hari Tuberkulosis Sedunia atau World TB Day diperingati setiap tanggal 24 Maret setiap tahunnya. Untuk Tingkat Provinsi Bali, Hari TBC dimeriahkan dengan Senam Kesegaran Jasmani dilanjutkan pelepasan balon oleh Gubernur Bali diwakili Pj Sekretaris Daerah Provinsi Bali, IB Ngurah Ardha bertempat di Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS) Lapangan Monumen Perjuangan Rakyat Bali Niti Mandala Renon, Denpasar, Minggu pagi (25/3).

Ngurah Ardha mengatakan, penderita di Bali masih cukup banyak. Segala usaha sudah dan akan terus dilakukan. Melalui peringatan Hari TBC Se-Dunia ini menjadi momentum dan harapan serta segala usaha agar penderita TBC dapat segera sembuh. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Ketut Suarjaya menekankan momentum peringatan ini sekaligus untuk mengingatkan masyarakat tentang bahaya TBC. TBC merupakan penyakit menular yang sampai saat ini sangat sulit diberantas karena selain kasusnya cukup tinggi, secara keseluruhan sulit ditemukan. Sehingga masih cukup banyak kasus-kasus tersembunyi yang berpotensi untuk menularkan kepada orang lain.

“Kita semua berpotensi tertular, siapapun dia. Maka dari itulah dalam momentum ini kami mengingatkan bahayanya TBC ini sehingga kita bisa mengobati penderita, dan menemukan kasus yang belum ditemukan,” kata Suarjaya. Sulitnya banyak kasus yang belum ditemukan kendalanya adalah sering kali pasien dengan gejala ringan tetapi tidak mau berobat. Disisi pelayanan banyak tenaga kesehatan tidak menyadari penderita yang datang merupakan kasus-kasus TBC.

Ditambahkannya, penyakit TBC dapat dicegah dengan perilaku hidup bersih dan sehat, mengupayakan diri kita tetap sehat dengan cara mengecek kesehatan secara teratur, jangan merokok, rajin berolah raga dan makan dengan gizi yang sehat dan istirahat yang cukup serta mengendalikan stress. Kebersihan lingkungan juga berperan penting dalam pencegahan, seperti ventilasi rumah dan cukup sinar matahari yang masuk.  “Sekali lagi, TBC ini bisa disembuhkan dengan berobat yang teratur. Kita terus berupaya menemukan kasus dan mengobati sampai tuntas,” kata Suarjaya.

Data estimasi jumlah kasus TBC di Bali mencapai 13.000 dan baru ditemukan 12 persen dari kasus itu. Sehingga masih sekitar 10.000 kasus yang belum ditemukan yang berpotensi menularkan ke orang lain. Dengan target menemukan 75-90 persen kasus TBC, diharapkan pada tahun 2030 kasus TBC akan tuntas. Suarjaya berpesan, masyarakat diminta tidak mendeskriminasi atau menjauhi penderita TBC, namun harus mengobati dan menghindari kemungkinan penularan, dengan penderita tidak batuk sembarangan melainkan menggunakan penutup mulut. Penularan TBC dimungkinkan melalui batuk, bersin-bersin dan dari ludah atau dahak penderita. “Dengan perilaku hidup yang sehat kita bisa menghindari TBC ini,” katanya.

Pada peringatan Hari TBC se-Dunia ini juga dilaksanakan deklarasi Gerakan Masyarakat Menuju Indonesia Bebas TB melalui aksi “Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS)”. Gerakan masyarakat menuju lndonesia bebas Tuberkulosis bertujuan untuk meningkatkan peran serta masyarakat dan pemangku kebijakan dalam mendukung program penanggulangan TBC serta menempatkan TBC sebagai isu utama di semua sektor masyarakat. Selain itu penyebarluasan informasi tentang TBC kepada masyarakat akan meningkatkan pengetahuan dan kepedulian untuk mencegah penularan TBC yang dimulai dari diri sendiri dan keluarga. (sus)