Asuransi Selamatkan Petani dari Gagal Panen

(Baliekbis.com), Program asuransi untuk usaha tani padi dan ternak sapi yang dilakukan pemerintah bekerja sama dengan pihak terkait diharapkan bisa membantu petani dari kerugian akibat gagal panen dan kematian ternak sapi. Kadis Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Prov. Bali Ida Bagus Wisnuardhana mengatakan hal itu, Jumat (11/8/2017) di sela-sela acara Sosialisasi Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dan Asuransi Usaha Ternak Sapi (AUTS) di ruang pertemuan Kantor Dinas Pertanian Tanaman Pangan Bali.

AUTP maupun AUTS merupakan kerja sama pemerintah dengan Jasindo, Bank BPD serta OJK Bali-Nusra. Dikatakan Wisnuardhana, program asuransi ini baru dimulai tahun lalu sehingga masih banyak yang belum tahu. OLeh karena itu dilakukan sosialisasi. Dikatakan program ini sangat menguntungkan petani maupun peternak karena premi yang harus dibayarkan sangat murah. Untuk asuransi usaha tani padi premi yang dibayar petani hanya Rp 36 ribu untuk satu hektar dari total premi Rp 180 ribu per musim tanam enam bulan. Sebab 80 persen premi asuransi disubsidi pemerintah. Sementara kalau gagal panen, petani dapat ganti rugi Rp 6 juta per hektar. Gagal panen umumnya karena serangan hama dan penyakit atau banjir. Dikatakan resiko usaha tani padi ini sangat tinggi, umumnya saat musim kering yang jatuh pada bulan April-Oktober. “Jadi hadirnya asuransi ini sangat membantu petani ketika gagal panen. Sebab klaim yang didapat bisa untuk beli sarana produksi.

Ida Bagus Wisnuardhana
Ida Bagus Wisnuardhana

Dijelaskan tahun 2016 ada 21 ribu hektar tanaman yang diasuransikan melibatkan sekitar 62 ribu petani dengan asumsi rata-rata tiap petani memiliki lahan 30 are. Sementara padi yang gagal panen mencapai 300 hektar. Jadi klaim gagal panen yang telah dibayarkan Rp 1,8 miliar. “Kan lumayan ini,” ujar Wisnuardhana seraya mengatakan kriteria gagal panen kalau 70 persen padi tak bisa dihasilkan.

Untuk 2017 ini tambah Wisnuardhana ditargetkan 29 ribu hektar lahan diasuransikan dari luas total 80 ribu hektar yang ada. “Tak semua musim tanam kita asuransikan. Sebab musim hujan tanaman relatif aman. Jadi yang musim kemarau sekitar April-September kita asuransikan karena saat ini ancaman lebih tinggi seperti kekurangan air dan serangan hama penyakit,” jelasnya. Untuk ternak sapi asuransinya juga sama nilainya. Tahun lalu diakui ada beberapa yang ajukan klaim, tapi tak banyak. Sapi di Bali saat ini mencapai 500 ribu ekor. (bas)