Arya Sandhiyuda: Ini Konsekuensi Indonesia Menjadi Anggota DK PBB

(Baliekbis.com), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah melaksanakan voting yang menghasilkan keputusan Indonesia terpilih menjadi Anggota Dewan Keamanan (DK) PBB per 1 Januari 2020. Demikian pula, Belgia, Dominika, Jerman, dan Afrika Selatan juga menempati anggota tidak tetap. Pengamat Politik Internasional, Arya Sandhiyudha, menilai bahwa posisi ini menagih tanggung-jawab besar agar Indonesia menjadi bagian solusi perdamaian dunia di tengah ketidakpastian global yang meningkat. “Sekarang global uncertainty (ketidakpastian global) itu meningkat karena sikap beberapa pemimpin dunia, terutama di beberapa spot yang jadi mikrokosmos konflik kawasan,” ujar Arya, Sabtu (9/6) terkait telah terpilihnya Indonesia
menjadi DK PBB.

Menurut peraih Master Studi Strategis dari RSIS NTU Singapura ini terdapat beberapa konflik yang sangat relevan bagi Indonesia untuk terlibat, ada Semenanjung Korea, saat harapan reunifikasi terbit lalu tiba-tiba ada pembatalan pertemuan KorUt AS. Timur Tengah, baik terkait Palestina, Suriah, Yaman, Iran, dan lainnya. Juga Eropa baik Ukraina ataupun krisis pengungsi dampak terus memanasnya Timur Tengah. Indonesia itu profil politik luar negerinya dapat dioptimalkan, baik sebagai bagian Asia, G20, ataupun Dunia Islam.
“Menjadi DK PBB meningkatkan peluang kita menaruh draft usulan pembahasan isu juga memungkinkan kita terlibat lebih jauh sebagai bagian solusi perdamaian dan stabilitas global,” tambahnya. Indonesia, menurut Doktor Hubungan Internasional dari Istanbul University, Turki ini, mesti maksimalkan profil di Asia Pasifik, dunia Muslim, Timur Tengah, dan negara Selatan. “Posisi Indonesia dapat mendorong lebih efektif sinergi dengan ragam organisasi kawasan, terutama di Asia Pasifik dan dunia Islam untuk dorong penyelesaian konflik tersebut secara damai,” tegas Arya.

Ia mengingatkan, bahwa peningkatan jumlah personel Operasi Penjaga Perdamaian/ Peace Keeping Operation (PCO) juga menjadi utang yang mesti dilunasi. Salah satu target kontribusi Indonesia juga mesti ditunaikan, yaitu memperkuat pasukan perdamaian PBB dengan mengirimkan 4000 PKO Indonesia. Sinergi perdamaian dan pembangunan, juga termasuk dalam agenda ekonomi pembangunan di Selatan-Selatan, terutama Afrika. Lebih dari itu, Indonesia juga dapat lebih terlibat dalam platform global mengatasi terorisme, radikalisme, ekstrimisme. Bagi Indonesia, ancaman non tradisional khususnya kedaulatan maritim kian meningkat. Arya menyebutkan bahwa isu separatisme di dalam negeri dengan posisi sekarang dapat lebih kuat posisi tawarnya. Begitupun diplomasi perlindungan Warga Negara Indonesia dan diplomasi ekonomi seharusnya meningkat. (ist)