Amitaba: KUR Ibarat “Ngelawar Capung”

(Baliekbis.com), Pemerintah kembali berencana menggulirkan Kredit Usaha Rakyat) yang populer disebut KUR. Bahkan KUR yang sebelumnya dibandrol dengan bunga 9 persen setahunnya, kini akan diturunkan menjadi 7 persen. Namun di mata pengelola  BPR (Bank Perkreditan Rakyat), kerja sama menyalurkan KUR ini bukan sebagai hal yang terlalu menarik. “Kami sebagai salah satu penyalur program ini melihat KUR ini ibarat ngelawar capung,” jelas Dirut Bank Kanti Made Arya Amitaba,M.M., kepada wartawan, Kamis (29/6/2017) di ruang kerjanya.

Pasalnya tambah Amitaba nilai KUR yang maksimal dipatok Rp 25 juta dengan sasaran usaha mikro ini tak lagi menjadi segmen pasar BPR. BPR lebih cocok masuk ke usaha ritel sehingga maksimal kreditnya bisa sampai Rp 500 juta. Menurut Amitaba pihaknya bukan mengaitkan KUR tersebut dengan keuntungan yang didapat BPR sebagai linkage penyalur KUR. Namun lebih pada pemberdayaan usaha debiturnya. Jika BPR bermain di segmen mikro ini maka dikhawatirkan debitur ritel bisa meninggalkan BPR dan lebih mengejar ke bank umum yang bisa memberikan nilai KUR lebih besar dengan bunga ringan. Ini jelas akan membawa dampak bagi kinerja BPR. Karena itu menurut mantan Ketua Perbarindo Bali yang kini dipercaya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Nasional iPro (Ikatan Bankir Profesional) BPR  itu berharap pemerintah bisa mempertimbangkan kondisi BPR sebagai partner penyalur KUR. Dikatakan di Bali ada dua BPR yang dipercaya menyalurkan KUR. BPR Kanti sendiri tambah Amitaba baru menyalurkan kredit ini Rp 1,5 miliar dari outstanding Rp 10 miliar. Sementara sebuah BPR lainnya hanya Rp 300 juta. (bas)