Ada Orang yang Tak Mudah Mabuk, Mengapa?

(Baliekbis.com), Mengapa beberapa orang lebih mudah mabuk, sementara ada juga orang yang sepertinya tidak terpengaruh alkohol — padahal sama-sama baru minum segelas? Pertama, penting untuk mendefinisikan apa, tepatnya, toleransi alkohol itu. Toleransi alkohol adalah ketahanan tubuh terhadap alkohol yang semakin meningkat dari waktu ke waktu, di mana seorang peminum alkohol akan perlu mengonsumsi lebih banyak minuman keras untuk mencapai efek memabukkan yang diincar.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat penyerapan alkohol seseorang. Faktor-faktor ini dapat mengurangi atau menambah tingkat penyerapan alami alkohol dan setiap individu. Jika Anda memahami hal ini, Anda dapat menggunakannya sebagai metode efektif untuk memperlambat efek alkohol pada tubuh dan otak.

1. Berat badan

Tingkat alkohol dalam darah (BAC) adalah perbandingan antara total kandungan alkohol dalam sistem tubuh, dengan jumlah total volume darah. Karena darah pada dasarnya adalah air, angka BAC seseorang dipengaruhi oleh persentase lemak tubuhnya; semakin tinggi persentase lemak tubuh, semakin rendah kadar air dalam tubuhnya dan akan lebih tinggi pula angka BAC-nya.

Bagi orang-orang dari berat yang sama, bahkan berjenis kelamin sama sekalipun, individu dengan persentase lemak tubuh yang lebih rendah (lebih berotot, misalnya) tetap akan memiliki angka BAC yang lebih rendah dibandingkan mereka yang memiliki persentase lemak tubuh yang lebih tinggi. Begitu pula dengan orang-orang yang memiliki postur badan lebih besar dan berat — semakin berat tubuh seseorang, semakin tinggi persentase air dalam tubuh untuk menyeimbangkan kadar alkohol yang sama. Singkatnya, semakin ringan angka yang tertera di alat timbangan, BAC Anda akan semakin tinggi dan Anda akan lebih mudah mabuk.

2. Jenis kelamin

Kebanyakan rekomendasi alkohol didasarkan pada standar pria dewasa dengan berat badan 70 kilogram. Biasanya, menenggak tiga kaleng bir ukuran 350 ml sekaligus kurang dari satu jam bisa membuat rata-rata pria mabuk (tingkat alkohol dalam darah bisa mencapai .045). Rata-rata manusia memecah alkohol dalam satu minuman standar (17 ml etanol) per 90 menit.

Wanita cenderung memiliki persentase lemak tubuh yang lebih tinggi dan kadar air yang lebih sedikit dari laki-laki. Pada porsi konsumsi yang sama, wanita rata-rata akan memiliki BAC lebih tinggi dari pria dan karena itu akan mabuk lebih cepat. Selain itu, wanita juga memiliki lebih sedikit enzim pemecah alkohol dalam hatinya. Hormon juga memengaruhi kemampuan tubuh untuk memproses alkohol, sehingga wanita akan mengalami angka BAC yang lebih tinggi lagi jika menenggak miras dalam porsi standar tepat sebelum menstruasi.

3. Makanan/sistem pencernaan

Makan lebih banyak adalah cara jitu untuk menunda perasaan mabuk. Untuk orang yang tidak makan, puncak titik keracunan alkohol terbesar biasanya terjadi antara 0,5-2 jam. Bagi seseorang yang menenggak miras sambil makan, puncak BAC biasanya tidak akan terjadi sampai setelah 1-6 jam.

Tubuh akan secara otomatis mendahulukan proses pencernaan makanan dan mencegah alkohol untuk ikut masuk ke dalam usus kecil, di mana penyerapan paling efektif. Setelah alkohol akhirnya terserap dan masuk ke dalam darah, diperlukan waktu setidaknya 1 jam untuk hati dapat memecahnya untuk dikeluarkan lagi oleh tubuh. Tapi ingat, ini bukan alasan untuk Anda jadi minum lebih banyak. Anda bukan menggagalkan penyerapan alkohol, namun hanya menundanya sehingga BAC Anda tidak memuncak dengan cepat.

3. Latar belakang etnis

Kelompok etnis tertentu mungkin tidak minum sebanyak dan terpengaruh sedikit alkohol dari kelompok etnis lain. Para pakar menduga enzim yang memetabolisme alkohol mungkin kurang melimpah di beberapa kelompok, atau mereka memiliki mutasi genetik dalam enzim, yang membawa pada pipi kemerahan dan detak jantung yang cepat, bahkan dengan sejumlah kecil alkohol.

Untuk alasan ini, orang-orang keturunan Cina jauh lebih kecil kemungkinannya untuk berpesta miras daripada orang-orang Korea yang memiliki budaya minum lebih kuat — sekitar tujuh persen, dibandingkan dengan 30 persen. Ini adalah hasil temuan sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychology of Addictive Behaviors, dilansir dari The Canyon Malibu. Penduduk asli Amerika juga memetabolisme alkohol jauh lebih lambat daripada banyak etnis lain.

4. Kekuatan minuman keras yang dikonsumsi

Semakin tinggi konsentrasi alkohol dari minuman Anda (10-30 persen), semakin cepat proses penyerapan alkohol dalam tubuh. Ketika kandungan alkohol kurang dari 10%, saluran pencernaan sedikit “malas” untuk cepat-cepat memproses alkohol. Oleh karena itu, penyerapan alkohol jadi lebih lambat dan Anda jadi lebih mudah mabuk. Namun demikian, konsentrasi alkohol yang terlalu tinggi (lebih dari 30 persen) cenderung mengiritasi selaput lendir saluran pencernaan, sehingga meningkatkan produksi lendir yang justru memperlambat penyerapan alkohol.

5. Waktu konsumsi

Semakin cepat Anda menenggak minuman berturut-turut, angka BAC Anda akan cepat naik. Namun seiring waktu, peminum alkohol rutin dapat minum lebih banyak tanpa merasa efek memabukkan sedikitpun. Bahkan jika Anda telah berhenti minum selama beberapa dekade, Anda masih akan sanggup minum dengan jumlah yang sama sebelum berhenti tanpa merasakan efek apapun.

6. Usia

Ironisnya, kekokohan toleransi ini justru akan perlahan runtuh begitu Anda menginjak usia tua, dipengaruhi oleh faktor penuaan alami, seperti penyakit, mood, dan tingkat kebugaran tubuh.

7. Obat-obatan

Meskipun secara tradisional dikonsumsi dalam bentuk cair untuk rekreasi, alkohol sebelas-dua belas dengan obat medis sehingga harus diperlakukan tidak berbeda seperti mengambil dua resep berbeda berbarengan. Penting untuk mengetahui interaksi obat dan berkonsultasi dengan dokter sebelum mencampur obat dengan alkohol.

Interaksi alkohol-obat yang berpotensi bahaya dapat terjadi baik pada peminum ringan maupun kronis. Jika Anda sedang minum obat resep atau obat nonresep, tanyakan dokter Anda untuk saran tentang asupan alkohol. Ketahui bahwa bahkan obat-obatan herbal dan suplemen juga dapat memiliki interaksi yang merugikan jika dikombinasikan dengan alkohol.

8. Kondisi tubuh

Jika Anda sakit dan kecapekan, ada peluang Anda akan dehidrasi. Dehidrasi akan menghasilkan angka BAC yang lebih tinggi. Alkohol dapat melipatgandakan gejala dehidrasi dan kelelahan. Kelelahan dan dehidrasi pun dapat memperburuk efek memabukkan alkohol. Ketika Anda sedang tidak fit, hati juga tidak mampu bekerja optimal demi mengolah dan/atau mengeluarkan alkohol dari dalam tubuh sehingga mengarah pada konsentrasi alkohol dalam darah yang semakin melonjak. Anda juga mungkin sedang mengambil obat penurun gejala penyakit, yang dapat meningkatkan efek mabuk alkohol yang juga berisiko menyebabkan masalah lainnya. (ist)